Mengenal Tentang Pakaian Kimono Jepang
Kimono ("着物" ) adalah salah satu simbol budaya tradisional Jepang yang paling ikonik di seluruh dunia. Lebih dari sekadar pakaian, kimono merupakan sebuah mahakarya seni tekstil yang sarat akan sejarah, filosofi mendalam, status sosial, serta cerminan kecintaan masyarakat Jepang terhadap keindahan alam dan pergantian musim. Berikut adalah penjelasan komprehensif mengenai sejarah, struktur, jenis, filosofi, hingga eksistensi kimono di era modern:
1) Asal-Usul dan Sejarah Perkembangan Kimono
Kata "kimono" secara harfiah berasal dari dua kata: ki () yang berarti "memakai" atau "mengenakan", dan mono () yang berarti "barang" atau "sesuatu". Jadi, kimono berarti secara harfiah adalah "sesuatu yang dikenakan".
- Periode Nara (710-794 M): Pada masa ini, gaya berpakaian Jepang sangat dipengaruhi oleh Dinasti Tang di Tiongkok. Masyarakat mengenakan pakaian terpisah antara bagian atas dan bawah (kosode atau pakaian berlengan kecil).
- Periode Heian (794-1185 M): Orang Jepang mulai mengembangkan gaya estetika busana mereka sendiri yang disebut Junihitoe (pakaian dua belas lapis) khusus untuk para wanita bangsawan istana. Pakaian ini sangat berat dan berlapis-lapis untuk menunjukkan status sosial.
- Periode Edo (1603-1867 M): Bentuk dasar kimono seperti yang kita kenal sekarang mulai terbentuk pada era ini. Karena kain yang digunakan semakin mewah dan teknik pewarnaan semakin canggih, pemerintah sempat memberlakukan undang-undang pembatasan kelas sosial berdasarkan jenis kain dan motif kimono yang boleh dikenakan.
- Era Restorasi Meiji (1868 M): Pemerintah Jepang membuka diri terhadap dunia barat dan mewajibkan pejabat serta militer mengenakan pakaian gaya barat (yofuku). Sejak saat itu, kimono mulai bergeser dari pakaian sehari-hari menjadi pakaian formal atau pakaian khusus acara tradisional.
2) Karakteristik Desain dan Struktur Kimono
Berbeda dengan busana barat yang dijahit dan dipotong melengkung mengikuti bentuk anatomi tubuh manusia, kimono dirancang dengan prinsip kesederhanaan geometris.
- Potongan Garis Lurus: Kimono dibuat dari satu gulungan kain utuh standar yang disebut tanmono (biasanya memiliki lebar sekitar 34–40 cm dan panjang sekitar 11–12 meter). Kain ini dipotong menjadi beberapa bagian garis lurus dan dijahit kembali tanpa membentuk lekukan tubuh.
- Ukuran Universal (One Size Fits All): Kimono tradisional tidak memiliki ukuran S, M, atau L yang spesifik. Panjang dan pendeknya kimono diatur melalui lipatan di bagian pinggang yang disebut ohashori, lalu dikencangkan dengan sabuk kain lebar bernama Obi.
- Kain Kanvas Seni: Karena bentuknya yang datar, seluruh keindahan kimono berpusat pada corak, motif, warna kain, serta kombinasi warna pada lapisan kerahnya (eri).
3) Jenis-Jenis Kimono Berdasarkan Status dan Kesempatan
Kimono memiliki aturan pemakaian yang sangat ketat (TPO: Time, Place, Occasion). Jenis kimono yang dikenakan menunjukkan usia, status pernikahan, serta tingkat formalitas suatu acara:
- # Wanita
- Furisode: Kimono paling formal bagi wanita belum menikah. Ciri utamanya adalah memiliki lengan yang sangat panjang (mencapai pergelangan kaki) yang menjuntai anggun. Biasanya dikenakan saat upacara Seijin Shiki (Hari Kedewasaan usia 20 tahun) atau pernikahan kerabat.
- Tomesode: Kimono paling formal khusus untuk wanita menikah, biasanya dipakai oleh ibu dari pengantin di acara pernikahan. Ciri khasnya adalah warna dasar yang tenang (seringkali hitam) dengan motif hiasan mewah yang hanya terletak di bagian bawah rok.
- Houmongi: Kimono semi-formal yang bisa dikenakan oleh wanita baik yang sudah maupun belum menikah. Motifnya menyambung dari bagian bahu, lengan, hingga rok. Cocok untuk pesta teh, jamuan makan malam resmi, atau menghadiri pernikahan teman.
- Iromuji: Kimono polos satu warna (selain hitam dan putih) yang bersifat serbaguna. Jika diberi lambang keluarga (kamon), bisa dipakai untuk acara formal; jika tanpa lambang, bisa dipakai untuk minum teh santai.
- Yukata: Kimono katun ringan yang tidak berfuring. Dikenakan khusus saat musim panas, terutama untuk menghadiri festival kembang api (hanabi), matsuri, atau sebagai pakaian santai di ryokan (penginapan tradisional).
# Pria
- Nagagi / Kimono Pria: Dikenakan dengan paduan celana berlipit lebar yang disebut Hakama dan jaket pendek penutup bernama Haori untuk acara formal.
4) Filosofi Musim dan Estetika Tradisional
Budaya kimono sangat erat kaitannya dengan filosofi perubahan musim (shiki) dan estetika mono no aware (kepekaan terhadap kefanaan keindahan alam). Pemilihan motif dan warna kimono tidak boleh sembarangan dan harus disesuaikan dengan siklus alam:
- Musim Semi (Maret–Mei): Mengenakan motif bunga sakura, ume (plum), atau kupu-kupu dengan warna-warna pastel cerah.
- Musim Panas (Juni–Agustus): Mengenakan motif air, ombak, ikan mas, atau kipas angin untuk memberikan ilusi kesejukan bagi yang melihatnya.
- Musim Gugur (September–November): Mengenakan motif daun maple (momiji) atau dedaunan kering dengan warna-warna tembaga, jingga, dan merah tua.
- Musim Dingin (Desember–Februari): Mengenakan motif pohon pinus (matsu), bambu (take), bunga plum yang tahan dingin (sho-chikuk-u), atau salju.
5) Aksesori Pendukung Kimono
Mengenakan kimono tidak cukup hanya dengan kain utamanya saja, melainkan memerlukan berbagai perlengkapan pendukung agar rapi dan indah dipandang:
- Obi: Sabuk kain lebar yang menjadi pusat perhatian artistik. Cara mengikat obi di punggung (seperti simpul otaiko atau musuzume) memerlukan keahlian khusus.
- Nagajuban: Jubah dalaman tipis (biasanya putih atau bermotif lembut) yang berfungsi melindungi kimono agar tidak terkena keringat langsung sekaligus memperlihatkan aksen kerah berlapis.
- Tabi: Kaos kaki tradisional berujung terbelah dua yang dirancang khusus untuk dipakai bersama alas kaki tradisional.
- Geta / Zori: Alas kaki tradisional. Geta adalah sandal kayu berseluncur yang biasa dipakai dengan yukata, sementara zori adalah sandal datar dari jerami/kulit yang lebih formal untuk kimono berfuring.
6) Kimono di Era Modern
Di Jepang modern, hampir tidak ada lagi warga yang mengenakan kimono untuk aktivitas sehari-hari karena dinilai kurang praktis dibandingkan pakaian barat. Kendati demikian, budaya kimono tetap dijaga kelestariannya melalui berbagai cara:
- Perayaan Tradisional: Kimono wajib hadir dalam momen-momen penting kehidupan, seperti upacara Shichi-Go-San (anak usia 3, 5, dan 7 tahun), kelulusan sekolah (sotsugyou-shiki), upacara pernikahan, dan Seijin Shiki.
- Pariwisata dan Industri Sewa: Bisnis penyewaan kimono (kimono rental) sangat populer di kota-kota bersejarah seperti Kyoto dan Asakusa (Tokyo), di mana wisatawan domestik maupun mancanegara gemar mengenakannya untuk berjalan-jalan mengabadikan foto.
- Inovasi Desain Kontemporer: Perajin dan desainer muda kini melakukan banyak eksperimen, seperti memadukan kimono dengan sepatu sneakers, mengenakan topi gaya barat, atau menggunakan bahan kain denim agar kimono lebih ramah tren mode masa kini dan bisa dipakai dalam suasana kasual.
Itulah beberapa penjelasan tentang kimono yang bisa kalian pahami. Kalian yang sedang tinggal atau bekerja di Jepang tentunya akan sering melihat pakaian tradisional Jepang ini ketika ada upacara atau festival tertentu di sana.
Artikel ini bermanfaat?